Kepenuhan Ontologis Gereja

Started by Andre Fantioz, Jan 27, 2026, 09:22 AM

Previous topic - Next topic

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Andre Fantioz

Kepenuhan Ontologis Gereja
Kristologi dan Eklesiologi sebagai Satu Kesatuan



Pendahuluan: Kristologi dan Eklesiologi Tidak Terpisahkan

Dalam Kekristenan klasik, Kristologi (siapa Kristus) dan Eklesiologi (apa itu Gereja) tidak pernah berdiri sendiri. Gereja tidak dipahami sebagai organisasi religius yang kebetulan mengajarkan Kristus, melainkan sebagai kelanjutan keberadaan Kristus di dalam sejarah. Karena itu, berbicara tentang kepenuhan Gereja tanpa terlebih dahulu menempatkannya dalam Kristologi adalah kesalahan kategori.

Jika Kristus dipahami secara ontologis sebagai Firman yang berinkarnasi, kepenuhan wahyu Allah, dan penghubung ilahi–manusia, maka Gereja secara ontologis dipahami sebagai realitas yang mengambil bagian dalam keberadaan Kristus, bukan sekadar komunitas yang menafsirkan-Nya.

Dengan kata lain: Kristologi menjawab siapa Kristus itu, sedangkan Eklesiologi menjawab bagaimana Kristus tetap hadir.



1. Kepenuhan Kristologis sebagai Dasar Ontologis Gereja

Kepenuhan Gereja hanya mungkin jika Kristologi yang dihayatinya bersifat ontologis, bukan fungsional atau simbolik semata. Inkarnasi dipahami sebagai peristiwa nyata, kesatuan kodrat ilahi dan manusia tidak dipisahkan, dan keselamatan dimengerti sebagai partisipasi dalam hidup ilahi, bukan sekadar perubahan status hukum.

Tanpa Kristologi seperti ini, Gereja akan tereduksi menjadi pusat pengajaran, komunitas moral, atau jaringan kepercayaan. Karena itu, kepenuhan Gereja selalu bersifat turunan, bergantung sepenuhnya pada kepenuhan Kristus.



2. Gereja sebagai Realitas Ontologis, Bukan Sekadar Komunitas Sosial

Dalam pemahaman apostolik, Gereja bukan terutama hasil kesepakatan iman atau produk sejarah. Gereja adalah modus kehadiran Kristus dalam ruang dan waktu, di mana keselamatan tidak hanya diajarkan tetapi dihadirkan.

Inilah sebabnya Gereja dipahami sebagai Tubuh Kristus, sakramen keselamatan, dan realitas yang mengada sebelum ditafsirkan. Gereja bukan sekadar melakukan sesuatu, tetapi pertama-tama adalah sesuatu.



3. Syarat-Syarat Ontologis Sebuah Gereja

Agar sebuah komunitas layak disebut Gereja secara ontologis (bukan hanya sosiologis), beberapa syarat mendasar harus terpenuhi.

1. Kontinuitas Apostolik
Bukan hanya kesetiaan ajaran, tetapi kesinambungan keberadaan sejak Gereja mula. Ini mencakup kesinambungan tahbisan, otoritas, dan kehidupan Gereja yang tidak lahir dari interpretasi individual, melainkan diwariskan secara historis dan ontologis.

2. Kepenuhan Sakramental

Sakramen tidak dipahami sebagai peniruan atau pengulangan tindakan historis Yesus selama hidup-Nya di dunia. Sakramen adalah tindakan ontologis Kristus yang bangkit dan hidup, yang terus bekerja melalui Tubuh-Nya, yaitu Gereja.

Dengan demikian, benar bahwa tidak semua sakramen dilakukan oleh Yesus secara historis (misalnya tahbisan, perkawinan, pengurapan orang sakit, dan krisma). Namun hal ini tidak melemahkan sifat sakramentalnya, karena sakramen tidak bergantung pada tindakan historis Yesus sebagai individu abad pertama, melainkan pada keberadaan Kristus yang melampaui waktu dan bertindak secara nyata dalam Gereja.

Sakramen adalah aktualisasi karya Kristus dalam sejarah, bukan reenactment peristiwa masa lalu. Kristus tidak berhenti bertindak setelah kenaikan-Nya, melainkan melanjutkan karya keselamatan-Nya secara ontologis melalui Gereja. Karena itu, sakramen bukan simbol psikologis atau pernyataan iman subjektif, melainkan tindakan Kristus sendiri yang sungguh menghadirkan rahmat yang dinyatakannya.

Jika sakramen direduksi hanya pada apa yang Yesus lakukan secara historis, maka Gereja tidak lagi dipahami sebagai Tubuh Kristus yang hidup, melainkan sekadar komunitas yang mengenang tindakan masa lalu.

3. Kesatuan Iman Dogmatis
Dogma berfungsi sebagai pagar ontologis, bukan penjara kebenaran. Ia memberi bentuk pada iman dan mencegahnya larut tanpa batas. Gereja yang utuh memiliki batas ajaran yang jelas karena realitas itu sendiri memiliki bentuk.

4. Liturgi sebagai Partisipasi Kosmik
Liturgi bukan sekadar ekspresi iman komunitas, melainkan partisipasi Gereja dalam kehidupan ilahi yang sedang berlangsung. Waktu, tubuh, materi, dan sejarah diikutsertakan dalam karya keselamatan.

5. Universalitas Ontologis
Universalitas Gereja tidak diukur dari jumlah atau ekspansi geografis, melainkan dari klaim bahwa realitas keselamatan yang dihadirkannya bersifat relevan bagi seluruh umat manusia.



Penutup: Kepenuhan yang Mengada, Bukan Sekadar Berhasil

Kepenuhan ontologis Gereja tidak diukur dari pertumbuhan numerik, keberhasilan misi, atau kesempurnaan moral anggotanya, melainkan dari kesetiaannya untuk tetap menjadi apa adanya: kelanjutan keberadaan Kristus di dunia.

Bahwa dari kepenuhan ini kemudian muncul dorongan untuk bersaksi dan keluar dari dirinya sendiri adalah konsekuensi metafisik, bukan indikator kekurangan ontologis.